۞ ۞ ۞

Apakah Allah Mencintaiku?

Sebuah tanya merayap pelan
di kedalaman sanubari,
mengetuk pintu sunyi,
membangunkan ruang-ruang introspeksi:

“Duhai Pencipta langit dan bumi,
adakah cinta-Mu
masih bersemi untukku?”

Dengan jemari yang gemetar,
kubuka lembaran suci-Mu perlahan.
Kucari jawab
di balik cahaya ayat-ayat Ilahi.

Lalu mataku tertumbuk
pada kalimat yang agung:

وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصَّابِرِيْنَ

Wallāhu yuḥibbuṣ-ṣābirīn

Allah mencintai orang-orang yang sabar.

Seketika dadaku luluh.
Hatiku tersungkur dalam malu.
Cermin diri memperlihatkan
betapa rapuh jiwaku.

Ah…
rasanya ayat itu terlalu tinggi untukku.

Sebab sabar
masih sering hanya menjadi hiasan di bibir,
sementara hatiku masih mudah gelisah,
jiwaku masih kerap kalah
oleh keluh dan resah.

Kubalikkan kembali halaman suci itu,
dengan rindu yang belum padam,
dengan harap
yang masih mencari tempat berlabuh.

Lalu kutemukan lagi
pilar cinta yang mulia:

وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

Wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn

Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.

Kembali hatiku termenung.
Kutakar amal yang pernah kulakukan.

Adakah kebaikanku
benar-benar tulus karena-Mu,
atau hanya ingin dipandang baik
oleh mata manusia?

Derajat ihsan terasa begitu tinggi,
seakan puncak gunung
yang belum mampu kudaki.

Pintu cinta itu begitu indah,
namun aku merasa
belum pantas memasukinya.

Kuteruskan pencarian,
meski harap mulai menipis,
meski dada mulai sesak
oleh rasa tak layak.

Kutemukan lagi seruan cinta-Mu
bagi mereka yang bersungguh-sungguh
di jalan-Mu;

yang berjuang menegakkan kebenaran,
yang berjihad dengan jiwa,
harta,
dan seluruh kekuatan.

Namun gundahku kian dalam.

Melawan egoku sendiri saja
aku sering tumbang.
Menundukkan hawa nafsuku sendiri saja
aku sering terluka.

Maka lirih hatiku bertanya:

“Di mana tanda cinta-Mu untukku, ya Rabb?
Adakah hamba yang berlumur cela ini
masih berhak
merindukan cinta-Mu?”

Dalam keputusasaan
yang hampir merenggut sisa harap,
mataku yang basah
kembali menatap ayat-Mu.

Lalu kutemukan oase
di tengah padang dosa yang gersang;
sebuah janji cinta
yang paling lembut
dan paling benderang:

إِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Innallāha yuḥibbut-tawwābīn
wa yuḥibbul-mutaṭahhirīn

Sesungguhnya Allah mencintai
orang-orang yang bertaubat,
dan mencintai orang-orang
yang menyucikan diri.

Seketika waktu seolah berhenti.
Bumi seperti diam.
Langit seperti mendekat.

Dan harapan yang hampir padam
kembali menyala
di sudut hatiku.

Mungkin…
mungkin ayat ini
memang Engkau turunkan untukku.

Untukku,
dan untuk jiwa-jiwa rapuh
sepertiku.

Jiwa yang tidak luput dari salah,
namun masih merindukan pulang.

Jiwa yang sering jatuh,
namun masih ingin bangkit
menuju-Mu.

Jiwa yang berlumur dosa,
namun belum kehilangan rindu
kepada ampunan-Mu.

Maka kutemukan jawabannya.

Bukan pada kesempurnaanku.
Bukan pada tingginya amal-amalku.
Bukan pula pada kuatnya langkahku.

Melainkan pada pintu taubat-Mu
yang selalu terbuka
bagi siapa pun
yang ingin kembali.

Lalu dalam sujud yang paling sunyi,
dengan hati yang remuk,
dengan jiwa yang menyerah,
dan air mata
yang tak lagi mampu kusembunyikan,

lisanku bergetar lirih:

Astaghfirullāh wa atūbu ilaih…
Astaghfirullāh wa atūbu ilaih…

Aku memohon ampun kepada Allah,
dan aku kembali kepada-Nya.

Karena kini aku mengerti,
cinta-Mu tidak hanya untuk mereka yang kuat,
tetapi juga untuk mereka yang jatuh,
lalu memilih pulang.

Dan aku, ya Rabb,
dengan segala rapuhku,
ingin pulang kepada-Mu.

Maka di hadapan-Mu,
aku tidak lagi membawa alasan,
tidak lagi membawa pembelaan,
tidak pula membawa kesombongan.

Aku hanya membawa
hati yang remuk,
jiwa yang letih oleh dosa,
dan rindu yang masih ingin mengetuk
pintu rahmat-Mu.

Dalam hening yang paling dalam,
kupanjatkan doa seorang hamba
yang sadar akan lemahnya diri:

Rabbighfir warḥam,
wa‘fu wa takarram,
wa tajāwaz ‘ammā ta‘lam.
Innaka ta‘lamu mā lā na‘lam,
innaka antallāhul-a‘azzul-akram.

Ya Tuhanku,
ampunilah aku,
rahmatilah aku,
maafkanlah aku,
dan muliakanlah aku.

Hapuskanlah dosa-dosa
yang Engkau ketahui,
sebab Engkau mengetahui
apa yang tidak kami ketahui.

Sesungguhnya Engkau, ya Allah,
Maha Mulia,
Maha Tinggi,
lagi Maha Pemurah.

Ya Rabb,
bila sabarku belum sempurna,
ajari aku untuk tetap bertahan.

Bila ihsanku masih bercampur noda,
bersihkan niatku
hingga hanya tertuju kepada-Mu.

Bila perjuanganku sering kalah
oleh hawa nafsu,
kuatkan langkahku
untuk kembali bangkit.

Dan bila dosaku terlalu banyak
untuk kuhitung,
maka ampunan-Mu jauh lebih luas
daripada seluruh kesalahanku.

Maka terimalah aku, ya Allah,
sebagai hamba yang pulang
dengan tertatih.

Sebagai jiwa yang datang
dengan malu.

Sebagai pendosa
yang masih berharap
pada cinta-Mu.

Astaghfirullāh wa atūbu ilaih…
Rabbighfir lī warḥamnī…
Wa‘fu ‘annī wa tub ‘alayya…

Aku memohon ampun kepada-Mu, ya Allah.
Aku bertaubat kepada-Mu.
Aku berserah kepada-Mu.

Dan dengan segala rapuhku,
dengan segala tangisku,
dengan segala rinduku,
aku pulang…hanya kepada-Mu.